Minggu, 08 Juli 2012

metode-metode di dalam psikologi


BAB I
PENDAHULUAN
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tenang jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, proses maupun latar belakangnya, jadi bias juga dikatakan psikologi itu Ilmu Jiwa. Karena psikologi itu ilmu jiwa maka dalam melakukan penelitian pasti memerlukan cara, nah cara itu disebut metode.
Metode penyelidikan dalam psikologi berdasarkan buku “Psikologi Umum karangan Drs. H. Abu Ahmadi” ada dua yaitu “metode yang bersifat filosofis” yang meliputi metode intuitif, metode kontemplatif, dan metode filosofis religious. Dan “metode yang bersifat empiris” yang meliputi metode observasi, metode pengumpulan data, dan metode eksperimen.
Maka dalam makalah ini kami hanya akan membahas metode yang bersifat emperis yaitu metode observasi dengan bagian-bagiannya, metode pengumpulan data dengan pembagiannya, dan metode eksperimen dengan pembagiannya.

BAB II
PEMBAHASAN
Metode-metode penyelidikan dalam psikologi
1.      Pengertian metode
Metode berasal dari kata method. Dalam bahasa Indonesia metode artinya cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud, atau cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan[1].
Didalam kepustakaan, istilah metode mempunyai pengertian yang sama dengan prosedur, tata cara, alat, dan teknik. Sedangkan maksud dari metode atau prosedur disini lebih menekankan pada usaha untuk mendapatkan, mengembangkan, atau menguji pembuktian atau teori, hipotesis atau dugaan. Sedangkan istilah tata cara, alat atau teknik lebih menekankan pada usaha untuk mendapatkan, atau membuktikan fakta atau data. Teknik lebih bersifat operasional, sedangkan metode lebih bersifat teoritis[2].
2.      Metode-metode dalam psikologi
Dalam psikologi terdapat metode-metode atau cara-cara untuk mempelajari tingkah laku seseorang, dan metode-metode yang sering digunakan oleh psikologi antaralain yaitu:
a.      Metode Observasi
Metode observasi adalah metode yang dilakukan melalui pengamatan. Para ahli melakukan metode ini dengan cara pengamatan serta mencatat kejadian-kejadian untuk dianalisis, diteliti, dan dicari kesimpulannya. Observasi tidak hanya berarti melihat dan memandang saja, tetapi mengamati secar teliti, selektif dan sisitematis, sehingga semua aspek yang berperan dalam situasi tingkah laku dapat dicatat, dianalisis, dan dihubungkan secara tepat untuk dijadikan suatu pernyataan, penilaian, kesimpulan, dugaan atau hipotesis. Metode observasi dalam psikologi banyak dilakukan untuk mempelajari tingkah laku anak-anak, interaksi social, aktivitas keagamaan, peperangan, aktivitas kejahatan, dan kejadian-kejadian lain yang tidak dapat dieksperimenkan. Observasi atau pengamatan terhadap perkembangan hidup seseorang sejak lahir disebut metode perkembangan (developmental methode). Sedangkan data atau hipotesis yang dicari melalui riwayat hidup seseorang dengan menanyakan kepada orang itu sendiri atau orang-orang yang mengenalnya atau melalui catatan-catatan mengenai orang itu, disebut metode riwayat hidup (case history methode)[3].
Contoh dari metode observasi itu ialah apabila kita ingin mengamati atau menyelidiki tingkah laku anak bagaimana ia bermain, berinteraksi dan lainnya. Maka kita dapat mencatat tingkah lakunya yang kelihatan, hendaknya pekerjaan mencatat itu dilakukan dengan teliti dan dicatat secepat-cepatnya. Pengamatan ini dapat ditujukan kepada anak secara terus-menerus, atau beberapa anak secara bergantian[4]. Metode observasi itu terbagi dua macam yaitu Introspeksi dan Ekstrospeksi.
-          Introspeksi
Introspeksi adalah pengamatan yang dilakukan dengan sengaja memperhatikan atau mempelajari proses kejiwaan pada diri sendiri atau mempelajari jiwa sendiri. Anak-anak tidak dapat mempergunakan metode introspeksi. Metode ini membutuhkan latihan dan pengertian, itulah sebabnya para ahli tidak sependapat untuk menggunakan metode ini untuk anak-anak.
August Comte, seorang ahli filsafat bangsa Perancis, mengatakan bahwa introspeksi tidak objektif, tidak dapat sekaligus digunakan untuk maksud menghayati dan mempelajari proses kejiwaan yang sedang dialami. Tokoh kedua, Wilian Stern, seorang bangsa Jerman, mengemukakan bahwa dengan cara introspeksi masih ada bagian-bagian kejiwaan yang tidak dapat diselidiki atau diketahui, yaitu bagian-bagian yang berada diluar batas kesadaran di mana hasil yang diperoleh selalu kurang lengkap.
-          Ekstrospeksi
Pengamatan yang dilakukan dengan maksud mempelajari kejiwaan orang lain disebut ekstrospeksi. Hanya pekerjaan kejiwaan pada diri sendiri yang langsung dapat dipelajari. Pekerjaan kejiwaan pada diri orang lain hanya dapat kita duga. Hal-hal yang dapat diperhatikan hanya terbatas pada unsur-unsur yang dapat ditangkap pancaindera.
Dengan memperhatikan perubahan roman muka dan perbuatan yang dilakukan orang lain, kemudian kita coba menduga isi hatinya untuk mengetahui apa yang sedang dipikirkannya. Bila cara memperhatikannya dilakukan lebih teratur dan seksama, dapat diharapkan akan diperoleh kesimpulan yang mendekati kenyataan. Proses menarik kesimpulan tersebut disebut analogi. Namun kita perlu hati-hati karena bisa saja kesimpulan itu keliru, untuk memperkecil kemungkinan keliru manusia dapat menggunakan kemampuan lain yang disebut kehalusan perasaan. Dengan kehalusan perasaan kita mampu menetapkan sikap yang tepat dalam pergaulan, yaitu dengan menyelami isi hati orang lain. Bila kita berusaha memahami gerak-gerik orang lain, dalam usaha memahami itu dibutuhkan bantuan introspeksi. Sama maksudnya dengan: untuk melakukan ekstropeksi dibutuhkan bantuan intropeksi[5].
b.      Metode Pengumpulan data
Metode ini ialah metode yang dilakukan dengan mengolah data-data yang didapat dari kumpulan daftra pertanyaan dan jawaban, bahan-bahan riwayat hidup ataupun bahan-bahan lain yang berhubungan dengan apa yang diselidiki, lalu dari data-data yang diperoleh tersebut diklasifikasikan untuk kemudian ditarik kesimpulan. Untuk mendapatkan data tersebut dapat ditempuh dengan melalui tiga cara yaitu dengan Interviu, Angket, pengumpulan bahan, biografi, dan otobigrafi atau auto bigrafi.
-          Interviu (wawancara)
Wawancara adalah tanya jawab antara si pemeriksa dan orang yang diperiksa. Maksudnya adalah agar orang yang diperiksa itu mengemukakan isi hatinya, pandangan-pandangannya, pendapatnya, dan lainnya, sehingga pemeriksa dapat lebih mengenalnya. Wawancara yang baik memerlukan pelatihan yang banyak, karena sangat sulit membuka pintu hati seseorang dalam waktu singkat yang tersedia dalam waktu wawancara. Ada beberapa macam wawancara yaitu:
1.      Wawancara bebas, pertanyaan dan jawaban diberikan sebebas-bebasnya oleh pemeriksa maupun yang diperiksa.
2.      Wawancara terarah, dalam hal ini sudah ada beberapa pokok yang harus diikuti si pemeriksa dalam mengadakan wawancara.
3.      Wawancara terbuka, pertanyaan-pertanyaan sudah ditentukan sebelumya, tetapi jawaban dapat diberikan bebas, tidak terkait.
4.      Wawncara tertutup, pertanyaan-pertanyaan sudah ditentukan sebelumnya dan kemungkinan-kemungkinan jawaban juga sudah ditentukan, sehingga orangorang yang diperiksa tinggal memilih antara kemungkinan-kemingkinan jawaban itu, misalnya antara ya dan tidak atau antara sangat setuju, setuju dan tidak setuju.
-          Angket
Angket adalah wawancara tertulis. Dalam angket, pertanyaan-pertanyaan sudah disusun secara tertulis dalam lembar-lembar pertanyaan. Orang yang akan diperiksa membaca pertanyaan-pertanyaan itu dan memberi jawaban-jawaban tertulis pula dalam kolom-kolom yang sudah disediakan. Jawaban-jawaban itu selanjutnya dianalis untuk mengetahui hal-hal yang diselidiki. Seperti halnya wawancara, angket pun terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang terbuka dan tertutup. Dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang tertutup, termasuk angket khusus yang dibuat skala sikap, yang diisinya adalah pertanyaan-pertanyaan tentang suatu hal tertentu dan diminta menyatakan sikapnya (sangat setuju sampai dengan sangat tidak setuju) terhadap masing-masing pertanyaan tersebut.
Kelemahan angket adalah bahwa alat ini tidak mampu menggali ekspresi-ekspresi wajah, perasaan, dan lain-lain di samping data yang dapat digali pun sangat terbatas. Sebaliknya angket berdaya jangkau luas dan tidak memerlukan keahlian khusus dalam mengumpulkan datanya. Denagn demikian, untuk survai-survai yang membutuhkan data dari sejumlah besar orang, biasanya digunakan angket[6].
-          Pengumpulan bahan
Metode ini merupakan juga salah satu metode yang sering juga dipakai untuk memperoleh keterangan-keterangan psikologis. Metode pengumpulan bahan ialah suatu metode yang dilaksanakn dengan jalan mengumpulkan bahan-bahan terutama pengumpulan gambar-gambar yang dibuat oleh anak-anak. Untuk itu, maka dikumpulkan segala macam permainan yang pakai oleh anak-anak pada usia-usia tertentu, sehingga dari segala macam alat permainan itu, akhirnya dicoba dibuat satu kesimpulan tentang permainan-permainan anak pada usia tertentu. Dari situlah akhirnya dibuat teori-teori tentang permainan, apakah itu Stanley Hall, Herbert Spencer, Sigmund Freud maupun Adler. Demikian pula pernah seorang ahli psikologi bernama Charlette Buhler, mengumpulkan bahan-bahan berupa karangan-karangan, gambar-gambar, syair-syair, dan tulisan-tulisan guna penyelidikan tentang kejiwaan pada anak-anak. Biasanya “metode pengumpulan bahan” ini dilakukan dalam rangka untuk mengetahui keadaan jiwa anak.  Yang dikumpulkan ialah hasil karyanya subjek. Baik hasil karya yang kongkret (berbagai hasil pekerjaan tangannya, maupun hasil karyanya yang abstrak: tulisannya, gambarannya). Dari hasil karya inilah dapat diketahui kira-kira watak isi hati subjek.
Kelemahan:
a.       Si penyelidik tidak berhadapan secara langsung, kadang-kadang tidak tahu situasinya pada waktu membuat hasil karya tersebut.
b.      Menginterpretasi gambaran, tulisan dan hasil-hasil karya yang lain dari seseorang tidaklah mudah dan juga bersifat subyektif[7].
-          Biografi
Jiwa anak atau seseorang dapat dipahami dengan mempelajari riwayat hidupnya, baik yang mereka tulis sendiri maupun yang dituliskan orang lain mengenai dirinya; kedua karya itu dapat mengungkapkan jiwa orang yang memiliki biografi itu. Riwayat hidup yang ditulis sendiri oleh orang yang punya riwayat dinamakan autobiografi. Riwayat hidup yang ditulis orang lain dinamakan biografi. Kedua riwayat hidup itu menjadi sumber yang berharga untuk mendapatkan bahan-bahan yang dapat digunakan untuk meneliti kejiwaan anak atau seseorang yang sedang diteliti[8].
-          Otobiografi
Otobiografi atau yang sering kita sebut “Autobiografi”, (bahasa Latin: auto artinya sendiri, bio artinya hidup, dan graphere artinya menulis) ialah tulisan yang berisi tentang kehidupan diri sendiri yang ditulis oleh orangnya sendiri juga, dan biasanya ditulis dalam buku harian atau buku diary.
Metode ini mempunyai beberapa kelemahan dalam pengumpulan data, ialah kembali kepada subyektifitas. Oleh karena si pengarang tidak selamanya memberikan gambaran yang sebenarnya.
Sifat subyektifitas sedikit banyak akan dijumpai dalam metode ini, maka mengatasi guna mendapatkan gambaran yang lebih obyektif dapat ditempuh dengan menyelediki biografi dari bermacam-macam penulis, sehingga dengan demikian dapat mendapatkan bahan yang lebih lengkap[9].
c.       Metode Eksperimen
Penelitian terhadap anak-anak tidak mudah dilakukan. Alasan petama karena anak-naka sangat sugestibel dan selalu menyenangkan hati sipenanya. Alasan kedua karena sukar diketahui dengan jelas apa yang dimaksudkan oleh anak. Metode ini dapat dilaksanakn di laboratorium atau lapangan. Dalam mempelajari suatu aktifitas atau proses tingkah laku, eksperimen merupakan suatu metode yang ideal untuk mendapatkan hubungan antarfakta. Bila kita membawa suatu masalah untuk mencari jawabannya, melalui kondisi tertentu yang diciptakan, berarti kita telah mengadakan eksperimen. Sering pula dikatakan mengetes hipotesis.
-          Eksperimen
Penggunaan eksperimen (percobaan) terhadap anak-anak hanya terbatas pada penyelidikan yang dapat diamati dengan alat indera karena gejala-gejal jiwa yang bersifat rohaniah masih sangat samar-samar. Wilhem Wundt, seorang ilmuwan bangsa Jerman (1874), mendirikan laboratorium psikologi yang pertama untuk melakukan rangkaian percobaan tentang kejiwaan. Suasana di laboratorium itu agak berneda dengan kehidupan di masyarakat. Walaupun Wundt bermaksud melakukan percobaan dengan teliti, pada zaman iru tidak semuanya dapat diteliti karena keterbatasan sarananya, sehingga hanya bagian-bagian yang dapat disaksikan dengan indera saja yang dapat diketahui. Tentang jalan pikiran dan kemauan seseorang belum dapat diselidiki karena tidak dapat disaksikan sendiri.
Bentuk-bentuk perasaan seperti kecewa, putus asa, rindu, dan sebagainya, agak sukar diciptakan dalam suasana eksperimen, yaitu suasan yang dibuat-buat. Walaupun eksperimen banyak kelemahannya, eksperimen  tetap bermanfaat digunakan karena, selain kelemahan itu, ia memiliki kelebihan lain, misalnya dapat diselidiki dengan teliti karena peristiwanya dapat diulang-ulangi.
-          Menggunakan tes
Metode testing adalah metode penyelidikan yang menggunakan soal-soal, pertanyaan-pertanyaan, atau tugas-tugas lain yang telah di standarsasikan. Alfred Binet dan Simon, dua orang ilmuwan Perancis, telah memperkenalkan skala inteligensi untuk pertama kali pada tahun 1905. Skala Binet terdiri dari 54 pertanyaan, masing-masing 5 pertanyaan untuk tingkat usia tertentu; jenjang pertanyaan yang paling mudah untuk usia 3 tahun, jenjang pertanyaan yang paling sukar untuk usia 15 tahun. Pengukuran kecerdasan dengan menggunakan tes Binet Simon diperkenalkan oleh L.M. Terman dalam bukunya, The Measurement of intelligence, 1916. Kemudian Terman dan M.A. Merrill melakukan penyempurnaan untuk kedua kalinya pada tahun 1973. Dari hasil penyempurnaan itu mereka perkenalkan lima tingkat kecerdasan, yaitu sangat bodoh, bodoh, normal, pandai, dan cerdas.
Anak-nak sekolah lanjutan sudah dapat diteliti kecerdasannnya dengan menggunakan tes walaupun sebelum diputuskan hasilnya harus hati-hati dipertimbangkan karena hanya dapat menghasilkan pendapat yang global terhadap kelompok yang besar; tidak diperoleh hasil kesimpulan yang teliti, dan hasil yang diperoleh kurang menggambarkan kecerdasan yang sebenarnya[10].

BAB III
PENUTUP

Metode berasal dari kata method. Dalam bahasa Indonesia metode artinya cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud, atau cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.
Metode observasi adalah metode yang dilakukan melalui pengamatan. Para ahli melakukan metode ini dengan cara pengamatan serta mencatat kejadian-kejadian untuk dianalisis, diteliti, dan dicari kesimpulannya. Yang bagian-bagiannya yaitu Metode introspeksi adalah pengamatan yang dilakukan dengan sengaja memperhatikan atau mempelajari proses kejiwaan pada diri sendiri atau mempelajari jiwa sendiri. Dan Metode ekstrospeksi ialah pengamatan yang dilakukan dengan maksud mempelajari kejiwaan orang lain.
Metode pengumpulan data ialah metode yang dilakukan dengan mengolah data-data yang didapat dari kumpulan daftra pertanyaan dan jawaban, bahan-bahan riwayat hidup ataupun bahan-bahan lain yang berhubungan dengan apa yang diselidiki, lalu dari data-data yang diperoleh tersebut diklasifikasikan untuk kemudian ditarik kesimpulan. Cara untuk mendapatkan data tersebut Intervieu ialah wawancara, Angket ialah wawancara tertulis, Biografi adalah riwayat hidup seseorang yang diriwayatkan orang lain dan Otobigrafi ialah riwayat hidup seseorang yang diriwayatkan dirinya sendiri.
Metode ekperimen ialah metode percobaan. Dalam metode ini terbagi dua yaitu Eksperimen yang artinya percobaan dan Tes atau Testing ialah metode penyelidikan yang menggunakan soal-soal, pertanyaan-pertanyaan, atau tugas-tugas lain yang telah di standarsasikan

DAFTAR PUSTAKA

Kamus Besar Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1989),
Drs. H. Ahmad Fauzi, Psikologi Umum, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2008), Ct. ke-4
Drs. Zulkifli, Perkembangan Psikologi, (Bandung: PT Remaja Rosadakarya, 2006), Ct. ke-6
Drs. H. Abu Ahmadi, Psikologi Umum, (Jakarta, PT Rineka Citra, 2003), Ct. ke-3


[1] Kamus Besar Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1989), h. 580-581
[2] Drs. H. Ahmad Fauzi, Psikologi Umum, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2008), Ct. ke-4, h. 31
[3] “Ibid”, h. 32
[4] Drs. Zulkifli, Perkembangan Psikologi, (Bandung: PT Remaja Rosadakarya, 2006), Ct. ke-6, h. 8
[5] “Ibid”, h. 9-10
[6] Drs. H. Ahmad Fauzi, Psikologi Umum, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2008), Ct. ke-4, h. 35-36
[7] Drs. H. Abu Ahmadi, Psikologi Umum, (Jakarta, PT Rineka Citra, 2003), Ct. ke-3, h. 16-19
[8] Drs. Zulkifli, Perkembangan Psikologi, (Bandung: PT Remaja Rosadakarya, 2006), Ct. ke-6, h. 11-12
[9]Drs. H. Abu Ahmadi, Psikologi Umum, (Jakarta, PT Rineka Citra, 2003), Ct. ke-3, h. 15
[10] “Ibid”, h. 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar